Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

18:28:35, 11 November 2017 Himawari

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling dilaksanakan pada hari Jumat, 22 September 2017 pukul 08.00-13.00 WIB di Aula Maftuchah Yusuf lantai 2 Gedung Dewi Sartika, Universitas Negeri Jakarta. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama program studi S1 dan S2 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Jakarta. Adapun kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu: sesi pertama diisi oleh Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. Pada sesi pertama ini, beliau menjelaskan mengenai Peran Bimbingan dan Konseling dalam Penguatan Pendidikan Karakter.

Terlebih dahulu beliau menjelaskan mengenai pendidikan. Penjelasan beliau, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa. Pendidikan yang sukses adalah yang mampu membuat anak menjadi bertakwa, berkepribadian matang, berprestasi, mempunyai rasa kebangsaan, dan berwawasan global. Hal ini sesuai dengan penguatan pendidikan karakter di sekolah.

 

Guru Bimbingan dan Konseling harus menjadi role model dan menjadi penerang serta penyejuk bagi siswa dan siswi. Guru Bimbingan dan Konseling harus bisa menyelaraskan perkataan dan perbuatan baik di sekolah dan lingkungan luar sekolah. Prof Arief Rachman juga menjelaskan Budaya 10S yang harus diterapkan oleh Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu: Senyum, Salam, Sapa, Sabar, Sehat, Semangat, Syukur, Sugih, Sukses, Surga. Budaya 10S ini selaras dengan penguatan pendidikan karakter di sekolah. Budaya ini diharapkan bisa menjadi nilai yang baik dan bermanfaat  diterapkan di sekolah maupun masyarakat.

Sesi kedua diisi oleh Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. mengenai Posisi Bimbingan dan Konseling dalam Penguatan Pendidikan Karakter: Implikasi Profesi dan Pengembangan Keilmuan. Beliau menjelaskan definisi pendidikan karakter yaitu gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), olah raga (kinestetik), dan keimanan dengan dukungan dan kerja sama sekolah, keluarga, dan masyarakat. Beliau juga menjelaskan penguatan pendidikan karakter sesuai dengan tujuan dan fungsi pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab serta dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Beliau juga menjelaskan mengenai strategi implementasi pendidikan karakter berbasis kelas yaitu salah satunya dengan gerakan literasi di sekolah. Penerapan gerakan literasi di sekolah diharapkan siswa mampu mengembangkan pola pikir, berwawasan luas, dan mampu menyaring informasi- informasi di era digital saat ini. Di era digital, guru Bimbingan dan Konseling harus mampu menguasai teknologi dan mengembangkan pendidikan karakter yang selaras dengan kemajuan teknologi. Beliau juga menjelaskan profesionalisasi Bimbingan dan Konseling di sekolah. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dalam menjalankan tugas di sekolah sudah diatur dalam berbagai Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling memperkuat posisi Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah. Guru Bimbingan dan Konseling bukan sebagai alat pelengkap  tetapi harus menjadi motor penggerak dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah.

Itulah beberapa rangkaian sesi seminar mengenai pendidikan karakter. Ada beberapa slogan dari Prof. Arief Rachman yang sesuai dengan pendidikan karakter yaitu Kuatkan Imanku, Sabarkan Hatiku, Cerdaskan Pikiranku, Sehatkan Badanku, dan Jalin Silaturahmi! Semoga slogan ini menjadi pedoman bagi kita semua sebagai civitas akademika MADANIA. Bravo! (Arip Nazarudin)


Share :